Diposting Oleh Admin Medialink International
21 Februari 2019

Kategori Article

Makna 5 Plengkung yang ada di yogyakarta yang sarat dengan sejarah

Kraton Ngayogyakarta memiliki ribuan kekayaan dan sejarah yang tak banyak di ketahui orang. Salah satunya adalah pintu gerbang kraton atau biasa di sebut plengkung,yang menjadi akses utama menuju kerajaan.

Saat ini plengkung yang masih sangat jelas bentuknya adalah Tarunasura atau di kenal dengan Plengkung Wijilan yang terletak di sebelah timur Kraton Yogyakarta atau Alun-Alun Utara tepatnya di Jalan Wijilan dan Nirbaya yang terkenal dengan sebutan Plengkung Gading yang terletak di sebelah selatan Alun-Alun kidul tepatnya di Jalan Patehan kidul.

Dua plengkung itu masih memiliki bentuk yang sama seperti ketika pertama kali di bangun pada tahun 1780-an,semasa kekuasaan Sri sultan Hamengku Buwono 1.

Keraton Ngayogyakarta sebenarnya masih memiliki tiga gerbang utama yang terletak di beberapa titik lingkungan kraton. Karena bentuknya yang sudah berubah,banyak yang tidak mengetahui bila tiga gerbang atau gapura ini adalah plengkung.

Bentuk tiga plengkung itu berubah karena faktor alam dan manusia

Berikut adalah lima Plengkung yang ada di lingkungan Keraton Ngayogyakarta

  • Plengkung Nirbaya Atau Plengkung Gading

Dari kelima plengkung yang ada, Plengkung Nirbaya merupakan bangunan terbesar dan paling utuh yang saat ini masih bisa ditemui. Plengkung ini juga sering disebut sebagai Plengkung Gading.

Berada di sebelah sebelah selatan Alun-alun Kidul, Nirbaya berasal dari kata ‘Nir’ yang berarti tidak ada dan ‘baya’ berarti bahaya. Jika diterjemahkan dalam bahasa harfiah Jawa maka Nirbaya berarti tidak ada bahaya yang mengancam.

Konon siapapun Sultan yang tengah bertahta dilarang untuk melintasi Plengkung Nirbaya ini selama hidupnya. Pasalnya Gerbang Nirbaya dijadikan pintu keluar bagi jenazah Sultan saat hendak dimakamkan menuju ke Imogiri.

  • Plengkung Tarunasura Atau Plengkung Wijilan

Plengkung ini juga sering disebut Plengkung Wijilan karena berada di daerah Wijilan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Plengkung Tarunasura terletak di sebelah timur Alun-alun Utara dan menjadi jalur utama lalu-lintas kendaraan.

Dinamakan Tarunosuro karena dulu pintu ini berisikan prajurit-prajurit muda yang menjaganya. Plengkung Tarunosuro masih untuh bangunannya, walau tembok beteng di kiri dan kanannya sudah hilang dan berubah jadi pemukiman warga.

  • Plengkung Jagabaya

Gerbang ini terletak di sisi barat Kraton Yogyakarta. Plengkung ini juga sering disebut Plengkung Tamansari karena letaknya yang berada di kawasan Tamansari.

Jagabaya berarti menjaga dari marabahaya, dalam bahasa Jawa ‘Jaga’ berarti menjaga dan ‘Baya’ berarti bahaya. Kondisi Plengkung Jagabaya telah berubah dari bentuk aslinya dan kini hanya berupa gapura.

  • Plengkung Madyasura

Terletak di sisi timur Kraton Yogyakarta, Plengkung Madyasura juga dikenal dengan Plengkung Buntet alias tertutup. Plengkung ini pernah mengalami pemugaran dan disulap menjadi gapura saat masa pemerintahan Sri Sultan HB VIII.

  • Plengkung Jagasura

Gerbang Jagasura terletak di sebelah barat Alun-alun Utara. Bentuknya Plengkung Jagasura sudah tak utuh lagi dan tinggal menyerupai gapura saja.

Jagasura asal kata dari ‘Jaga’ berarti menjaga dan ‘Sura’ yang artinya pemberani. Jagasura berarti pasukan pemberani, dahulu gerbang ini dijaga oleh pasukan-pasukan Mataram yang gagah dan tegas.

 

Dikutip dari berbagai sumber (Tribunnews.com , Okezone.com)

 

 

Terkait Berita Terkait

Komentar 0 Komentar :

    Komentar