Diposting Oleh Admin Medialink International
04 Maret 2019

Kategori Article

SEJARAH JALAN MALIOBORO YOGYAKARTA


Sahabat linkers, Siapa yang tak tahu kawasan Malioboro? Kawasan ini menjadi jantung kota sekaligus simbol keberadaan kota Yogyakarta. Bahkan bagi beberapa orang, serasa belum pergi ke Yogyakarta kalau belum menginjakkan kaki ke Malioboro. Tapi di balik itu, ada sejarah panjang bagaimana kawasan itu dinamakan Malioboro.
Diawali akan keberadaan Keraton Yogyakarta yang berdiri sekitar abad 18, jalan Malioboro saat itu masih jalan tanah tanpa nama. Jalan itu digunakan untuk menghubungkan Keraton Yogyakarta dan Tugu Golog-gilig yang membentuk garis imajiner lurus dengan gurung Merapi. Kanan kirinya pun masih berupa tanah dan sebagian besar berupa perkampungan, menurut Prof. Djoko Suryo, seorang ahli sejarah, dari dulu kawasan jalan itu baru ada pasar Beringharjo dan Kepatihan. Tapi semenjak dibangun jalan kereta api dan Stasiun Tugu yang menjadi sentral transportasi yang keluar masuk Jogja, kawasan itu jadi ramai dan Jogja menjadi kota modern.


Pada tahun 1912, kerajaan Inggris di bawah pimpinan Stamford Raffles menyerang kesultanan Yogyakarta yang saat itu diperintah oleh Sultan HB II. Demi menggugah pasukan Inggris menaklukkan pasukan Yogyakarta saat itu, Raffles menanamkan jiwa dan semangat kepahlawan kerajaan Inggris yaitu Duke of Malborough.
Duke of Malborough adalah panglima kerajaan Inggris yang berhasil mengalahkan pasukan Spanyol dan Perancis dalam berpuluh-puluh kali pertempuran. Keberanian dan kekuatan Malborough itulah yang dipompakan ke pasukan Inggris. Sejak itu, masyarakat Yogyakarta tidak asing dengan nama Malborough.
Seringnya pasukan Malborough melewati jalan tanpa nama menuju pusat kota yakni Gedung Residen dan Benteng, membuat masyarakat Yogyakarta memberi nama jalan itu jalan Malborough.
Menurut Djoko Surya, karena masyarakat Jawa susah mengucapkan kalimat bahasa Belanda dan Inggris maka disesuaikan dengan lidah Jawa. Oleh karena itu sampai sekarang masyarakat Jawa menyebut jalan itu Jalan Malioboro.Keberadaan Malioboro sering pula dikaitkan dengan tiga tempat sakral di Yogya yakni Gunung Merapi, Kraton dan Pantai Selatan.


Dalam Bahasa Sansekerta, kata Malioboro bermakna karangan bunga. Kata Malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama Marlborough yang pernah tinggal disana pada tahun 1811 – 1816 M. Pendirian jalan malioboro bertepatan dengan pendirian Kraton Yogyakarta.
Perkembangan pada masa itu didominasi oleh Belanda dalam membangun fasilitas untuk meningkatkan perekonomian dan kekuatan mereka, Seperti pembangunan stasiun utama (1887) di Jalan Malioboro, yang secara fisik berhasil membagi jalan menjadi dua bagian. Sementara itu, jalan Malioboro memiliki peranan penting di era kemerdekaan (pasca-1945), sebagai orang-orang Indonesia berjuang untuk membela kemerdekaan mereka dalam pertempuran yang terjadi Utara-Selatan sepanjang jalan.
Malioboro terus berkembang hingga saat ini. Dengan tetap mempertahankan konsep aslinya dahulu, Malioboro jadi pusat kehidupan masyarakat Yogya. Tempat-tempat strategis seperti Kantor Gubernur DIY, Gedung DPRD DIY, Pasar Induk Beringharjo hingga Istana Presiden Gedung Agung juga berada di kawasan ini.
Pemerintah setempat kini terus melakukan perbaikan untuk menata Malioboro menjadi kawasan yang nyaman untuk disinggahi Warung-warung lesehan hingga saat ini masih dipertahankan untuk mempertahankan ciri khas Malioboro.


Malioboro Sekarang ini merupakan jalan pusat kawasan wisatawan terbesar di Yogyakarta, dengan sejarah arsitektur kolonial Belanda yang dicampur dengan kawasan komersial Cina dan kontemporer. Trotoar di kedua sisi jalan penuh sesak dengan warung-warung kecil yang menjual berbagai macam barang dagangan.
Di malam hari beberapa restoran terbuka, beroperasi sepanjang jalan. Wisatawan juga dapat menyaksikan kekhasan lain dari Malioboro seperti puluhan andong dan becak yang parkir berderet disebelah kanan jalan pada jalur lambat Malioboro. Sedangkan pada sebelah kiri jalan wisatawan dapat melihat ratusan kendaraan bermotor yang diparkir berjajar yang menjadi tanda bahwa Malioboro merupakan kawasan yang banyak menyedot para pengunjung.

Dikutip dari berbagai sumber

Editor : Elizah Wati

Terkait Berita Terkait

Komentar 0 Komentar :

    Komentar