Diposting Oleh Admin Medialink International
12 Maret 2019

Kategori Article

5 SPOT WISATA RELIGI DI JOGJA YANG AKAN MENENTRAMKAN BATIN

Setiap wisatawan memiliki tujuan yang berbeda beda. Ada yang tujuannya untuk bersenang – senang, pemburu selfie, mencari pengalaman baru, mencari suasana baru, menambah ilmu pengetahuan, dan ada juga yang ingin mencari ketenangan batin/ wisata religi. Nah jika anda salah satu tipe wisatawan yang mencari ketenangan batin, tidak ada salahnya kamu coba mengunjungi 5 wisata religi yang berada di Yogyakarta di bawah ini.

  • Sendangsono


Sendangsono adalah tempat ziarah Goa Maria yang terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Gua Maria Sendangsono dikelola oleh Paroki St. Maria Lourdes di Promasan, barat laut Yogyakarta.

Selain berdoa, pada umumnya para peziarah mengambil air dari sumber. Mereka percaya bahwa air tersebut dapat menyembuhkan penyakit. Catatan terkait memperlihatkan, Sendangsono awalnya merupakan tempat pemberhentian (istirahat sejenak) para pejalan kaki dari Kecamatan Borobudur Magelang ke Kecamatan Boro (Kulon Progo), atau sebaliknya. Tempat itu banyak dikunjungi karena keberadaan sendang (mata air) yang muncul di antara dua pohon sono.

Kesejukan dan kenyamanan tempat itu ternyata juga dimanfaatkan untuk bertapa oleh sejumlah rohaniwan Buddha dalam rangka menyucikan dan menyepikan diri. Nilai spiritualistik muncul dan menguat seiring dengan adanya kepercayaan yang didasarkan pada suatu legenda bahwa tempat itu juga dihuni Dewi Lantamsari dan putra tunggalnya, Den Baguse Samija. Keberadaan Sendangsono tak luput dari peran Romo Van Lith SJ, rohaniawan Belanda yang lama tinggal di Pulau Jawa. Hal itu juga menandakan bahwa Sendangsono tidak bisa dilepaskan dari lingkaran sejarah Gereja Katolik di Pulau Jawa mengingat Romo Van Lith sendiri merupakan salah satu rohaniwan yang menyebarkan ajaran Katolik di Pulau Jawa.

Di tempat ini tidak hanya jiwamu yang akan menemukan kedamaian, namun juga ragamu. Gua Maria Sendangsono terletak di kawasan yang sangat asri dan menyatu dengan alam. Aliran sungai yang membelah tempat peziarahan serta pohon-pohon

besar yang menaunginya menjadikan tempat ini sangat sejuk dan segar. Sebuah pohon sono atau angsana besar tumbuh dengan kokoh menaungi tempat ini.

Sebenarnya keberadaan pohon sono inilah yang menjadikan tempat ini diberi nama Sendangsono. Dulunya, mata air di sini lebih dikenal dengan nama Sendang Semagung. Tempat ini menjadi peristirahatan dan persinggahan para Bikhu yang berjalan kaki dari Borobudur menuju Boro, begitu pula sebaliknya. Lantas pada tahun 1904, Pastur Van Lith datang ke tempat ini dan mengadakan pembabtisan bagi warga Kalibawang. Tempat ini pun akhirnya dikembangkan menjadi tempat peziarahan umat Katholik dan dikenal dengan nama Sendangsono.

Meski merupakan tempat peziarahan umat Katholik, tempat ini terbuka untuk siapa pun. Karena itu tidaklah heran jika banyak umat beragama lain yang datang ke tempat ini untuk sekadar merenung atau mencari udara segar. Kamu bisa berdiri di atas jembatan kecil sembari melihat aliran sungai atau duduk-duduk di pendopo kayu. Bahkan bagi para pecinta arsitektur, Sendangsono menjadi salah satu destinasi wisata menarik karena rancang bangunnya yang unik. Tak heran jika Sendangsono pernah dijadikan setting film “3 Hari Untuk Selamanya” yang dibintangi Nicholas Saputra.

  • Pura Vaikuntha Vyomantara

Lokasinya beradaa di Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, bersebelahan dengan Museum Dirgantara Mandala TNI AU Yogyakarta dan Mudah dijangkau karena dari jalan raya Bantul masuk ke kawasan pangkalan TNI AU Adi Sucipto bersebelahan dengan Museum Dirgantara Mandala TNI AU Yogyakarta.

Tempat ini juga bebas akses masuk dan parkir. Arsitektur bangunan yang ada di Pura Vaikuntha Vyomantara sangat bagus, banyak patung-patung yang menghiasi pura tersebut. PuraVaikuntha Vyomantara bisa membuat kita merasakan Yogyakarta dengan aroma dan suasana ala-ala Bali. Di Pura Vaikuntha Vyomantara akan didampingi oleh pengurus pura jika kita berkunjung dengan tujuan melihat budaya yang ada di pura tersebut.

Awalnya PuraVaikuntha Vyomantara dibangun untuk kebutuhan umat Hindu yang berdinas dan bertugas di Pangkalan TNI AU Adisutjipto Yogyakarta, di samping itu juga merupakan kebijakan dari pimpinan TNI Angkatan Udara untuk menyiapkan sarana tempat ibadah bagi prajurit TNI beserta keluarganya yang beragama Hindu dalam bentuk Pura. Pura ini juga mengajarkan kita akan budaya Hindhu yang ada di Indonesia, dengan adanya Pura ini kita juga diajarkan bahwa kita berbeda-beda tetapi tetap satu juga sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika.

  • Masjid Kotagede Yogyakarta


Tempat ini merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta dan merupakan masjid peninggalan Mataram yang masih bisa dilihat sekarang dan juga masih dipakai sebagaimana fungsinya. Di kotagede Yogyakarta memang terdapat banyak peninggalan bersejarah yang menyimpan informasi pada masa kerajaan Mataram. Salah satu tempat bersejarah di kota ini adalah Masjid Agung Kotagede yang dibangun pada zaman kerajaan Mataram pada tahun 1640 oleh Sultan Agung bergotong-royong dengan masyarakat setempat yang pada umumnya waktu itu beragama Hindu dan Budha.

Melangkah memasuki halaman Masjid akan didapati sebuag pohon beringin tua yang umurnya sudah ratusan tahun yang bernama Wringin Sepuh, Pohon tersebut oleh masyarakat sekitar dianggap keramat dan diyakini membawa berkah bagi siapa saja yang mau bertapa di bawah pohon tersebut. Disekitar pohon tersebut terdapat parit yang mengelilingi Masjid. Parit tersebut dahulu dipakai untuk tempat berwudhu tetapi sekarang dipergunakan sebagai tambak.

Masjid Kotagede Yogyakarta yang sudah berusia ratusan tahun memiliki sebuah prasasti yang menyebutkan bahwa Masjid tersebut dibuat dalam dua tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung yang berhasil membangun inti masjid yang berukuran kecil yang disebut langgar. Tahap kedua masjid ini dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X.

 

  • Klenteng Gondomanan


Gondomanan yang bernama Fuk Ling Miau merupakan salah satu dari dua kelenteng legendaris di Yogyakarta yang berada di Jl. Brigjen Katamso No.3, Gondomanan, Kota Yogyakarta, meskipun didirikan setelah Kelenteng Poncowinatan, tempat ibadah ini menyimpan cerita masa lalu yang dinamis. Tanah kelenteng yang dibangun pada 1900 ini merupakan pemberian Sultan HB VII di tahun 1854. Keraton Yogyakarta menghibahkan tanahnya untuk tempat beribadah masyarakat Tionghoa kala itu.

Semula, Kelenteng Gondomanan bernama Hok Tik Bio atau tempat ibadah untuk Hok Ting Cing Sin alias Dewa Bumi. Dewa ini merupakan tuan rumah kelenteng ini.Pada era pemerintahan Orde Baru, Buddha dimasukkan ke kelenteng ini. Alasannya, negara saat itu tidak mengakui agama Konghucu. Dimasukkannya unsur Buddha juga membuat kelenteng ini tidak ditutup oleh penguasa.

Namanya pun berubah menjadi Vihara Buddha Prabha atau Fuk Ling Miau. Kaum Konghucu pun beribadah secara sembunyi-sembunyi. Untuk menyembah dewa mereka seolah-olah seperti sedang bergerilya.Setelah rezim Orde Baru berakhir, umat Konghucu bisa beribadah kembali. Terlebih, Imlek dan Cap Go Meh bisa dirayakan lagi.Kelenteng Gondomanan mulai dipadati umat yang beribadah. Tidak hanya itu, kelenteng ini juga menjadi salah satu pusat peribadatan umat Tridharma, yakni Buddha, Konghucu, dan Tao di Yogyakarta.

Layaknya umat Konghucu di daerah lain, umat Kelenteng Gondomanan juga membersihkan tempat ibadah dan patung-patung di altar seminggu sebelum Imlek. Setidaknya ada 15 patung di altar yang dicuci dan dilaporkan, antara lain, Dewa Bumi, Dewa Obat, Dewa Nabi Konghucu, Dewa Surya, dan Dewa Kwan Kong.

  • Ganjuran Church


Gereja Hati Kudus Yesus merupakan gereja Katolik Roma di Ganjuran, Bantul, Indonesia. Gereja ini juga dikenal dengan nama Gereja Ganjuran, berdasarkan tempat letaknya. Gereja ini merupakan gereja tertua di Bantul.Gereja Ganjuran didirkan pada tanggal 16 April 1924 oleh keluarga Schmutzer, yang memiliki sebuah pabrik gula di wilayah itu. Kompleks gereja ini disempurnakan dengan pembangunan candi yang dinamai Candi Hati Kudus Yesus pada tahun 1927. Candi dengan teras berhias relief bunga teratai dan patung Kristus dengan pakaian Jawa itu kemudian menjadi pilihan lain tempat melaksanakan misa dan ziarah, selain di dalam gereja, yang menawarkan kedekatan dengan budaya Jawa.

Bila ingin mengikuti misa dalam bahasa Jawa dan nyanyian lagu yang diiringi gamelan, anda bisa datang ke gereja ini setiap hari kamis hingga Minggu pukul 5.30, setiap malam Jumat pertama, setiap malam Natal dan setiap Sabtu Sore pukul 17.00. Misa dalam bahasa Jawa itu digelar di pelataran candi, kecuali misa harian setiap pukul 5.30 yang diadakan di dalam gereja.

 

Bagaimana sobat traveller? menarik dan keren bukan tempat wisata religi dari kota pelajar? Dan ini masih sebagian spot wisata religi, masih banyak tempat wisata religi lainnya di jogja loh. Rugi deh, kalau kalian sampai melewatkan moment spesial di sini. Sekian dulu info wisata kali ini tentang spot wisata religi yang dapat menentramkan batin di Yogyakarta, semoga bermanfaat.

Terkait Berita Terkait

Komentar 0 Komentar :

    Komentar