Diposting Oleh Admin Medialink International
16 Maret 2019

Kategori Article

MASJID TERTUA DI YOGYAKARTA YANG WAJIB KALIAN KETAHUI

 

Ketika pertama kali mendengar kata Jogja, maka yang terlintas adalah mengenai budaya yang masih kental di Jogja. Tidak hanya itu, berbagai jajaran pantai yang cantik sepanjang pantai selatan juga saying untuk dilewatkan. Apalagi ditambah dengan berbelanja asik dan murah di jalan malioboro. Tetapi, tidak hanya itu yang bisa dikenal di Jogja. Jogja juga dikenal sebagai pusat perkembangan agama Islam. Sehingga tidak heran, banyak masjid-masjid bersejarah yang menyimpan berbagai cerita dari kejadian di masa lampau.

masjid tertua di Yogyakarta yang sampai saat ini masih ada. Batasan usia masjid adalah yang dibangun pada zaman Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Karena ada satu lagi masjid yang lebih tua, yaitu Masjid Gedhe Mataram. Masjid tersebut dibangun pada zaman Sultan Agung dari Kesultanan Mataram Islam. satu berada di pusat kota, tepatnya di barat Alun-alun Utara Keraton yaitu Masjid Gedhe Kauman. Sedangkan 5 lainnya terletak di luar kota (5-10 km dari keraton) dan disebut sebagai Masjid Pathok Nagara.

Pathok dalam bahasa dan dialeg Jawa sama maknanya dengan kata Patok dalam  Bahasa Indonesia, yaitu tonggak penanda tapal batas. Bermula ketika Sultan Jogja, Sultan Hamengkubuwono I berguru kepada Kyai Muhammad Faqih dan meminta nasihat tentang cara menjaga kesultanan Jogja senantiasa aman sentosa. Salah satu dari nasihat Kyai Muhammad Faqih kala itu adalah agar Sultan mengangkat Pathok Pathok negara.

Berikut 5 daftar masjid tua yang bersejarah di Jogja.

  • Masjid Gede Kauman Atau Masjid Agung Yogyakarta

Masjid Gede dibangun sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono pertama pada tahun 1773. Masjid ini merupakan masjid Raya dari Prov DIY dan merupakan benda cagar budaya. Pada awal pembangunannya, masjid ini didirikan sebagai tempat ibadah bagi keluarga raja dan rakyatnya juga sebagai simbol identitas kerajaan Islam. Serambi yang terdapat pada Masjid Gede difungsikan sebagai “Almahkamah Al Kabiroh” yang berarti lokasi pertemuan semua alim ulama, lokasi tempat pengajian dan dakwah serta tempat pengadilan agama.

 

Pada halaman luar masjid bagian utara dan selatan terdapat bangunan yang disebut dengan pagongan (tempat gamelan). Setiap bulan mauled, gamelan tersebut dimainkan dan digunakan untuk menarik minat masyarakat Jawa agar menggemari music tradisional, tidak hanya itu, pertunjukkan gamelan tersebut juga disisipi berbagai dakwah yang dilakukan oleh ulama.

  • Masjid Kotagede atau Masjid Gedhe Mataram

Masjid ini simbol kebesaran dan kejayaan Islam masa kerajaan MataraM. Di dalamnya terdapat jejak kekuasaan Kasunan Surakarta. Dibangun pada masa Sultan Agung, 1640, Lokasi di bagian selatan kota, tepatnya di kelurahan Jagalan, kecamatan Banguntapan Bantul.

Terdapat karakter pluralism di balik dominasi arsitektur Jawa pada bangunan limasannya berupa gapura atau gerbang yang disebut rana/kelir dalam rumah ibadah Hindu  dan Budha. Di sebelah selatan masjid terdapat makam keluarga raja.

Ornament serta semua perangkat yang ada dalam masjid cukup unik dan menarik, salah satunya adalah bedug yang terdapat dalam masjid yang sudah berusia ratusan tahun. Dua pohon beringin akan menyambut di pelataran masjid saat kita berkunjung ke masjid ini dan dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Beberapa barang dan perangkat yang ada dalam masjid masih asli dari awal berdirinya masjid, sehingga masjid ini masih memiliki kesan klasik pada bangunannya.

  • Masjid Jogokariyan

Masjid ini memiliki keunikan dari segi manajemen pengelolaan. Dari ribuan masjid di seluruh Indonesia, Masjid Jogokariyan menjadi pelopor masjid yang memiliki kamar hotel. Terletak di Jl. Jogokaryan 36, RT 04/11, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, masjid ini dibangun pada 1969. Orang sering menjuluki masjid bintang tiga, sesuai dengan klasifikasi hotel masjid yang berada di lantai 3 Islamic Center Masjid Jogokariyan setempat. Terdapat 11 kamar ukuran 3x3 meter dengan tarif menginap Rp 150 ribu-Rp 200 ribu per hari. Tarif kamar eksekutif (VIP) disesuaikan dengan kemampuan konsumen. Kemudian kamar khusus kategori sosial ukuran 4x10 meter sebagai fasilitas menginap gratis fisabilillah.

Masjid ini layak sebagai lokasi wisata spiritual untuk mengetahui bagaimana pengurus membangun basis data jemaah aktif, tidak aktif, tidak salat, dan profil kondisi ekonomi mereka. Pengurus mengetahu berapa jumlah. Misalnya data warga pada 2016, terdapat 1030 KK (sekitar 4000 jiwa), yang belum salat 17 orang. Terjadi penurunan jumlah warga tidak salat dari smeula 127 orang (2000). Beitu juga warga yang korban dan tidak korban setiap tahun, warga miskin dan data jemaah lainya.

 

 

  • Masjid Syuhada

Mengenang bagaimana warga Yogyakarta merebut kemerdekaan dan mengusir pendudukan tentara Jepang (1942-1945), Masjid Syuhada menjadi buktinya. Di kawasan masjid yang terletak di Jl. I Dewa Nyoman Oka No.13, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, para tentara rakyat dan warga berperang. Sebanyak 21 pejuang syuhada atau gugur di medan perang. Kegigihan mereka semula disimbolisasikan dengan tugu, kemudian dipermanenkan menjadi masjid yang dinamakan Syuhada.

Ditandai pembentukan panitia pembangunan pada 14 Oktober 1949,  masjid mulai dibangun pada 23 September 1950, dan peresmiannya pada 20 September 1952.

Masjid Syuhada terdapat tiga lantai (lantai dasar/underground sebagai tempat kajian, lantai dua sebagai lokasi salat perempuan dan perpustakaan serta perkantoran masjid, lantai utama/lantai tiga sebagai tempat jemaah salat kaum Adam). Sepintas dari luar memandang, masjid ini mirip dengan rumah panggung.

  • Masjid Pakualaman

Masjid ini merupakan salah satu benda cagar budaya Jogja yang dibangun oleh Paku Alam II pada abad XIX. Letaknya berada di luar kompleks Puro sebelah barat laut alun-alun Sewandanan. Terdapat prasasti pada sebelah utara masjid yang menunjukkan tahun Jawa 1767 (1839 M), dan terdapat pula prasasti lain di sebelah selatan yang menunjukkan tahun Jawa 1783 (1855 M). sampai saat ini masih diperdebatkan mana yang merupakan awal tahun pendirian masjid tersebut.

Masjid Pathok Nagoro

Kebesaran kekuasaan Islam Kraton Ngaoyogyakarta Hadiningrat tidak hanya direpresentasikan dalam bangunan Masjid Gedhe Kauman. Sebagai institusi kekuasaan tradisional, kraton memiliki lima penyangga masjid utama di Kauman yang dikenal sebagai Pathok Nagoro. Terdapat lima Masjid Pathok Nagoro:

  • Masjid Nurul Huda Dongkelan (Masjid Pathok Negara Selatan)

Masjid Pathok Negara bagian arah selatan ini Alamatnya di Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, DI. Yogyakarta.

Rute ke Masjid ini dari Jl. Bugisan ke arah selatan (arah pabrik Madukismo) hingga sampai di perempatan Ringroad. Dari perempatan Ringroad berbelok ke barat untuk menyusuri Ringroad hingga sampai di gapura dusun Senggotan, sebelum jembatan. Lalu jalan dari gapura dusun Senggotan itu ke arah utara. Lebih baik bertanya ke warga sekitar karena masjid nya tersebut terletak di tengah perkampungan penduduk melalui gang-gang dusun.

  • Masjid Taqwa Wonokromo (Masjid Pathok Negara Selatan)

Masjid Pathok Negara ini terletak cukup jauh dari keramaian kota, tepatnya bersebelahan dengan tempuran antara sungai Opak dan Oyo. Masjid Taqwa berdiri di atas tanah seluas 5000m2. Luas bangunan masjid ini saat didirikan adalah 420 m2 dan hingga kini telah dilakukan pengembangan sehingga luasnya menjadi 750m2. Bagian serambi luasnya 250 m2, dan ruang perpustakaan seluas 90 m2, dan halaman seluas 4000 m2.

Arsitektur masjid ini masih mempertahankan keasliannya. Serupa dengan Masjid Sulthoni di Plosokuning. Hanya saja ukuran masjid lebih besar. Pada awalnya bangunan induk masjid Taqwa berbentuk kerucut (lancip) dengan mustaka dari kuwali yang terbuat dari tanah liat. Sedang bangunan serambi berbentuk limasan dengan satu pintu di depan. Semua bahan bangunannya dari bambu, atapnya terbuat dari welit, dan dindingnya dari gedhek.

  • Masjid Ad-Darojat Babadan (Masjid Pathok Negara Timur)

Di masa Perang Dunia II, Masjid ini sempat digusur oleh penjajah Jepang. Karena desa Babadan hendak dijadikan pangkalan udara dan gudang senjata. Alhasil masjid beserta warga desa Babadan pindah ke desa Babadan Baru yang letaknya di Kec. Depok, Kab. Sleman

Pada pembangunan awal di tahun 1964 bentuk masjid masih semi permanen. Baru pada tahun 1988 dibangun kembali serambi tengah dengan sumber dana dari pemerintah  dan swadaya masyarakat. Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun ciri khas sebagai Masjid Pathok Negara tetap dipertahankan, seperti mustoko masjid yang masih disimpan dengan baik. Baru pada tahun 1992 bangunan induk utama dibongkar kembali dan disarankan agar disesuaikan seperti bentuk semula yakni joglo yang berasal dari kayu jati.

Masjid Pathok Negara bagian timur alamatnya di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, DI Yogyakarta.

Rute untuk menuju ke masjid ini adalah ke JEC (Jogja Expo Center). Dari Jl. Raya Janti di depan JEC itu ada sebuah pohon beringin yang menghadap ke sebuah pertigaan. Nah, salah satu jalan di pertigaan itu bernama Jl. Pathok Negara. Ikuti saja Jl. Pathok Negara hingga sampai di lokasi masjid.

 

  • Masjid Sulthoni Plosokuning (Masjid Pathok Negara Utara)

Arsitektur Masjid Sulthoni ini masih terjaga seperti saat masjid ini dibangun. Masjid Pathok Negoro di Plososkuning didirikan setelah pembangunan masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid tersebut meniru masjid Agung sebagai salah satu usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta.

Di Masjid Sulthoni ini masi sering dilakukan Bukhorenan, tradisi Kraton Jogja untuk mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi dengan membaca dan memahami hadist-hadist dalam Sahih Bukhari.

Untuk menuju masjid ini biasanya paling mudah mengikuti Jl. Kaliurang hingga km 9. Ambil timur via pertigaan besar sebelum lampu merah. Ikuti jalan tersebut sampai bertemu perempatan dengan empat petunjuk arah. Belok ke kanan/selatan untuk ke arah Minomartani yaitu lewat Jl. Plosokuning Raya. Ikuti terus jalan tersebut hingga sampai di Masjid Sulthoni Plosokuning.

  • Masjid Jami’ An Nur Mlangi (Masjid Pathok Negara Barat)

Masjid ini adalah Masjid Pathok Negara yang terbesar. Itu karena bangunannya sudah direnovasi menjadi dua tingkat yang mengorbankan arsitektur aslinya. Pada awalnya bentuk bangunan masjid Pathok Negara di Mlangi ini mirip dengan yang ada di Plosokuning.

Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran. Prabuningrat.

Masjid Pathok Negara ini letaknya di barat. Alamatnya di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, DI Yogyakarta.

 

 

Terkait Berita Terkait

Komentar 0 Komentar :

    Komentar